Beranda > Info Pendidikan > BAKAT(POTENSI LUAR BIASA DARI DIRI KITA)

BAKAT(POTENSI LUAR BIASA DARI DIRI KITA)

Setiap anak dipercaya memiliki bakat tersendiri yang akan menjadi kekuatan dirinya untuk menghadapi masa depan yang ingin diwujudkannya. Bagaimana kita memahami sebuah keberbakatan seseorang? Keberbakatan seseorang memiliki 4 (empat) klasifikasi, yaitu : kelangkaan, keunggulan (mengacu pada sensibilitas serta sensitivitas yang lebih tinggi), kuota (keterbatasan jumlah individu yang memiliki keterampilan) dan anomali. Seseorang dikatakan berbakat jika ia menunjukan kemampuan diatas rata-rata, melakukan hal-hal yang kreatif dan memiliki tekad dalam melaksanakan tugasnya. Memahami bakat anak merupakan langkah awal dalam membantu mengeksplorasi bakatnya itu untuk meraih masa depannya. Tetapi dalam prakteknya kita sering dihadapkan pada sejumlah tantangan. Tantangan tersebut adalah sulitnya menemukan/menentukan bakat mana yang harus dikembangkan atau bakat apa yang sesungguhnya dimiliki oleh anak. Setiap anak adalah unik oleh karena itu setiap bakat perlu memperoleh perhatian khusus, dan perhatian khusus inilah yang jarang didapatkan anak

Sekolah sebagai lingkungan yang cukup banyak memberikan intervensi pada anak menjadi tantangan yang perlu diperhatikan dalam perkembangan bakatnya. Hal ini disebabkan disiplin kelas dan prinsip egalitarian yaitu pemerataan terhadap semua siswa dengan harus mengikuti kegiatan yang sama namun tidak diminati anak. Dan tantangan yang cukup berat adalah ketidakseimbangan evaluasi. Pandangan umum yang memandang keberbakatan berdasarkan skor IQ.

Untuk menjawab tantangan diatas, guru dan orang tua harus bekerjasama menemukan strategi cerdas untuk mengembangkan keberbakatan anaknya. Hal yang harus dilakukan adalah menemukan bakat yang paling menonjol dalam diri anak. Howard Gardner berkata bahwa satu hal terpenting dalam pendidikan adalah ia dapat memahami, menjadi bergairah dengannya, merasa gembira, merasa termotivasi untuk meluangkan waktu lebih lama dengannya. Dan kita harus dapat mengamati dan mendukung anak ketika ia sedang menikmati sesuatu hal, pada saat mereka terlibat sepenuhnya dalam aktivitas pembelajaran, atau ketika mereka menunjukan minat yang besar pada beberapa subjek atau pengalaman baru.

Menerima bakat anak meskipun bakat tersebut bukan merupakan kemampuan yang kita inginkan. Seringkali orang tua memaksakan kehendaknya pada anak agar menjadi seseorang sesuai dengan keinginannya padahal itu bukan keinginan anak. Akibatnya anak tidak menikmati dan merasa terpaksa melakukan sesuatu hal karena hanya ingin menuruti kemauan orang tua. Jika hal ini terjadi, anak mulai bersikap memberotak terhadap keinginan orang tua bahkan yang lebih parah, bakat anak mulai hilang dan terbuang sia-sia. Untuk mengeksplorasi bakatnya, anak butuh pembuktian diri. Membuktikan diri berarti anak mampu memunculkan ide dan gagasan kreatifnya serta mampu menunjukan kemampuan untuk merealisasikannya. Guru dan orang tua harus mampu mendorong anak untuk tampil percaya diri menunjukan kemampuan yang ia miliki.

Bagaimanapun juga bakat anak akan terus berkembang jika terus diasah (practicing), buang mitos bahwa orang-orang berprestasi itu meraih prestasinya karena Tuhan mengistimewakan mereka dengan bakat yang dimiliki. Ini sebuah mitos karena dari hasil penelitian menyimpulkan, ternyata bukan karena bakat semata yang membuat mereka berhasil, tetapi faktor yang paling banyak mendukung keberhasilan mereka adalah “practicing” atau mengasah bakat, keunggulan atau kelebihan alamiah yang melekat pada dirinya. Jadi bakat akan berkembang jika dikenali, dipahami, diarahkan dan dikembangkan. (MM)

Kategori:Info Pendidikan
  1. Desember 27, 2010 pukul 6:31 am

    salam pendidikan, bakat anak2 jarang diasah ortu,mereka cenderung terseragamkan oleh isu2 global yg belum tentu benar

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: